<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=12833396&amp;blogName=My+special+diary&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fdianchandra.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fdianchandra.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div><!-- --><div id="b-navbar"><a href="http://www.blogger.com/" id="b-logo" title="Go to Blogger.com"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/logobar.gif" alt="Blogger" width="80" height="24" /></a><form id="b-search" action="http://www.google.com/search"><div id="b-more"><a href="http://www.blogger.com/" id="b-getorpost"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/btn_getblog.gif" alt="Get your own blog" width="112" height="15" /></a><a href="http://www.blogger.com/redirect/next_blog.pyra?navBar=true" id="b-next"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/btn_nextblog.gif" alt="Next blog" width="72" height="15" /></a></div><div id="b-this"><input type="text" id="b-query" name="q" /><input type="hidden" name="ie" value="UTF-8" /><input type="hidden" name="sitesearch" value="dian-chandra.blogspot.com" /><input type="image" src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/btn_search.gif" alt="Search" value="Search" id="b-searchbtn" title="Search this blog with Google" /><a href="javascript:BlogThis();" id="b-blogthis">BlogThis!</a></div></form></div><script type="text/javascript"><!-- function BlogThis() {Q='';x=document;y=window;if(x.selection) {Q=x.selection.createRange().text;} else if (y.getSelection) { Q=y.getSelection();} else if (x.getSelection) { Q=x.getSelection();}popw = y.open('http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t=' + escape(Q) + '&u=' + escape(location.href) + '&n=' + escape(document.title),'bloggerForm','scrollbars=no,width=475,height=300,top=175,left=75,status=yes,resizable=yes');void(0);} --></script><div id="space-for-ie"></div>


Monday, July 10, 2006

TENTANG KITA
Musuh utama manusia adalah dirinya sendiri
Kegagalan terutama manusia adalah kesombongan
Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu
Kesedihan terutama manusia adalah iri hati,
Kesalahan terutama manusia adalah mencampakkan dirinya dan orang lain.

Sifat manusia yang terkasih adalah rendah hati,
Sifat manusia yang paling diuji adalah semangat dan keuletannya,
Kehancuran terbesar manusia adalah rasa keputusasaan.

Harta terutama manusia adalah kesehatan,
Hutang terbesar manusia adalah hutang budi,
Hadiah terutama manusia adalah sifat lapang dada dan mau memaafkan,
Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan,
Ketenteraman dan kedamaian terutama manusia adalah suka berdana dan beramal"Segala pekerjaan mudah untuk dilakukan kecuali satu hal ...... memahami orang lain dan menerima keberadaannya tanpa mempersoalkan"kekurangannya".

"Sebagaimana diri kita, demikian pula makhluh lain, sebagaimana makhluk lain, demikian pula diri kita. Dengan memikirkan mereka, dengan membandingkan mereka, tidak seharusnya kita saling berselisih, bertengkar dan membunuh atau menyebabkan hal itu."
"Kulihat saudaraku dengan mikroskop kritik dan kubilang sungguh jahat saudaraku itu, kulihat lagi ia dengan teleskop hina dan kubilang alangkah kecilnya ia, kemudian kupandang ia dengan cermin kebenaran,alangkah miripnya ia dengan aku".

Suroto Abdurrahman.__._,_.___


posted by dian chandra at 5:15 AM

~~~*~~~


Wednesday, July 05, 2006

Jika Hidup Adalah Permainan, Inilah Aturan Mainnya

Terjemahan bebas dari materi oleh:
Cherie Carter Scott, PhD
The CEO’s Guardian Angel
Pengarang buku "If Life Is A Game, These Are The Rules"

ENGKAU TURUN KE DUNIA DIBERI TUBUH
Engkau mencintainya atau tidak mencintainya,
ia diperuntukkan bagi hidupmu. Jadi terimalah.
Apa yang berarti adalah apa yang ada di dalam.

ENGKAU AKAN DIHADAPKAN PADA PELAJARAN
Hidup adalah pengalaman belajar yang ajeg,
di mana setiap hari adalah kesempatan untuk belajar lebih banyak.
Semua pelajaran itu, diciptakan khusus hanya untukmu.
Mempelajarinya adalah kunci untuk menemukan arti dan relevansi bagi hidupmu.

TIDAK ADA YANG SALAH
Yang ada hanya pelajaran.
Perjalananmu adalah menuju kebijaksanaan.
Tidak semuanya akan sesuai dengan keinginanmu.
Semangat adalah obat untuk penghakiman pada diri sendiri.
Memaafkan adalah penghapusan beban emosi.
Etika, integritas dan tawa adalah pusatnya.

PELAJARAN AKAN TERUS DIULANG SAMPAI ENGKAU BELAJAR
Masalah dan tantangan, iritasi dan frustrasi adalah pelajaran.
Kesadaran, kesabaran dan penerimaan diri adalah prasyarat.
Menyalahkan selain diri sendiri adalah penghindaran dan penolakan.
Perubahan tidak terjadi dalam satu malam. Maka berilah ia waktu.

BELAJAR TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR
Selama Engkau hidup, akan selalu ada pelajaran.
Menyerahlah pada iramanya. Janganlah berontak atau melawan.
Berkomitmenlah pada proses dan perubahan.
Rendah hatilah Engkau untuk menerima kelemahan diri.
Fleksibel-lah Engkau untuk mengadaptasi.
Kekakuanmu hanya akan menolak kebebasan
untuk menikmati peluang-peluang baru.

"DI SANA" TIDAK LEBIH BAIK DARI "DI SINI"
Bersyukur dan nikmatilah perjalananmu di sini dan hari ini.
Hidup di dalam “sekarang” akan membantumu mencapai kedamaian.

SIAPAPUN YANG BUKAN ENGKAU ADALAH CERMINAN DARI DIRIMU SENDIRI
Apa yang Engkau cintai dan benci tentang orang lain,
adalah cerminan dari apa yang Engkau cintai dan benci tentang diri sendiri.
Bertoleransilah. Pengalaman buruk adalah peluang untuk
menyembuhkan luka yang telah lama Engkau bawa.
Bantulah orang lain, sebab itu berarti Engkau membantu dirimu sendiri.

HIDUPMU TERGANTUNG DIRIMU
Engkau sudah memiliki semua yang diperlukan. Bertanggungjawablah.
Biarkan berlalu sesuatu yang tak bisa Engkau ubah, dan tak perlu marah.
Keberanian ada pada setiap orang. Gunakanlah untuk apa yang Engkau anggap benar.
Kita semua punya kekuatan dan semangat untuk berpetualang.
Raih! Dan peluklah apa yang ada di depan.

SEMUA JAWABAN ADA DALAM DIRIMU
Dengarlah dirimu. Percayalah pada kalbu, insting dan perasaan terdalam.
Sekalipun ia samar-samar atau hanya sekelebat lewat.
Lihat, dengar dan percayailah inspirasi alamiahmu.

ENGKAU LUPA SEMUA INI SAAT ENGKAU LAHIR
Kita lahir dengan segala kemampuan ini.
Kehidupan awal telah menyeret kita ke dalam dunia fisik.
Itulah yang menjadikan kita penuh ragu, sinis, dan kehilangan keyakinan serta percaya diri.
Saat Engkau tersesat,
panggillah mereka kembali.
Karena mereka, tidak punya batas.

Sumber: dari milis tetangga...


posted by dian chandra at 4:34 AM

~~~*~~~


Tuesday, March 14, 2006

Perjalanan Seekor Burung Pipit
Publikasi : 12-03-2006

KotaSantri.com : Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udara disana selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki-maki si Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan
mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia akan mati karena tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puas-puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

***

Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran, diantaranya :
1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran.
3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang-kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
5. Waspadalah terhadap orang yang memberikan janji yang berlebihan. (Imma)


posted by dian chandra at 9:57 PM

~~~*~~~


Wednesday, March 01, 2006

SABAR ENERGI KEHIDUPAN

"Sabar itu pada hakikatnya bukanlah menyerah, dan bukan pula pasif tidak melakukan sesuatu kegiatan. Sabar adalah ketangguhan dalam melakukan sesuatu."


Setiap insan dalam mengarungi kehidupannya tak lepas dari ujian dan cobaan. Kebanyakan manusia biasanya menganggap bahwa ujian dan cobaan dari Allah adalah berupa kegagalan, bencana ataupun berbagai jenis kesulitan lainnya. Padahal manusia terkadang diuji pula dengan harta, tahta, dan berbagai kesenangan duniawi.

Kehidupan manusia di dunia ini, akan menjumpai hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Tentunya tidak ada manusia yang mengalami kesenangan seumur hidupnya, tanpa merasakan sedikit pun kesulitan. Begitupun sebaliknya, tidak ada orang yang menjumpai kesusahan terus menerus sepanjang hidupnya. Ia pasti pernah mengalami kesenangan dan kegembiraan.


Pada dasarnya dalam menjalani roda kehidupan ini setiap insan membutuhkan sebuah kekuatan. Kekuatan yang akan menjadi energi untuk terus melaju menjalani berbagai episode hidup, terhindar dari sifat putus asa.


Sabar adalah salah satu energi yang kita butuhkan itu. Karena dengan memiliki sifat sabar, seseorang akan merasa optimis dalam menempuh perjalanan hidupnya. Lalu, mengapa sabar bisa menjadi energi untuk kehidupan ? Padahal kerap kali dalam pandangan kita, sabar itu identik dengan pasrah.


Mengutip pendapat KH Didin Hafidhudin, menurutnya sabar itu pada hakikatnya bukanlah mengeluh, menyerah, dan bukan pula pasif tidak melakukan sesuatu kegiatan. Sabar adalah ketangguhan dalam melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat, ketika berhadapan dengan rintangan dan tantangan. Rintangan dan tantangan dijadikannya sebagai suatu peluang dan kesempatan untuk semakin dinamis dalam mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupannya.


Episode kehidupan seseorang memang fluktuatif. Hidup ini kadangkala mendaki, menurun, terjal, datar, dan kadangkala pula sangat licin. Kadangkala di atas, kadangkala di bawah, kadangkala dalam posisi dan jabatan yang tinggi, dan kadangkala tidak memiliki jabatan sama sekali. Namun dengan kesabaran, seorang insan pasti akan selalu tabah dan ulet dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.


Sabar menjadi energi yang mutlak dibutuhkan. Dalam hal ini bukan berarti kita pasrah begitu saja. Sudah barang tentu diperlukan usaha atau iktiar terlebih dahulu sebelum kita menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah SWT.


Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam Miftahu Sa'adah, seperti diungkapkan M Fuad Nassar dalam tulisannya di Republika, berpendapat bahwa alam ini mempunyai dua fungsi terhadap manusia, yaitu rahmat dan bencana. Selagi alam fungsinya rahmat, maka air dapat dimanfaatkan. Namun jika kalau alam sudah berubah fungsinya menjadi bencana, maka air, angin, tanah, sama menghantam manusia. Semuanya tergantung pada ulah manusia itu sendiri.


***

Pun begitu ketika seseorang mengalami episode hidup yang menyenangkan. Seseorang dituntut kesabarannya untuk mampu mengendalikan hawa nafsunya dalam menghadapi segala cobaan hidupnya itu. Ketika memiliki jabatan misalnya. Seseorang dituntut untuk bersabar, bergelut dengan hawa nafsunya untuk menghindari penyelewengan jabatan maupun korupsi. Menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan karena kesabarannya itulah, Insya Allah dia akan terhindar dari fitnah akibat jabatannya itu.


Sabar memang energi kehidupan. Sabar adalah penolong. Seperti Firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu (maksudnya mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat). Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al Baqarah 155). (red/mikha)***


posted by dian chandra at 8:37 PM

~~~*~~~


Monday, January 23, 2006

Hidup dengan Landasan Basmalah

(KH Abdullah Gymnastiar )

Seorang Muslim dengan Muslim lainnya bagaikan satu tubuh, ia akan merasa
sakit tatkala saudaranya sakit. Begitu pula saat saudaranya bergembira, ia
juga akan ikut merasa gembira.

Saudaraku, dari seratus empat belas surat dalam Alquran hanya satu surat
saja yang tidak diawali kalimat basmalah, yaitu QS. At-Taubah [9]. Selain
At-Taubah, semuanya diawali lafal basmalah.

Apa hikmahnya? Semua yang kita lakukan harus berlandaskan basmalah. Artinya,
kita selalu menggantungkan amal perbuatan kita pada Allah, dan menghiasi
amal-amal tersebut dengan kasih sayang. Karena itu, berbicara tentang Islam
sama artinya dengan berbicara tentang kasih sayang. Islam adalah agama kasih
sayang; agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

Rasulullah SAW adalah contoh ideal pribadi penuh kasih sayang. Beliau
menjadikan basmalah sebagai tempat bertolak. Kalau kita telaah kehidupan
Rasul, maka kasih sayang menjadi bagian terpenting pribadinya. Dakwah yang
beliau dilakukan adalah dakwah penuh kasih sayang. Dalam Alquran
difirmankan, ''Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan
dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang Mukmin.'' (QS At-Taubah [9]: 128).

Tanpa landasan kasih sayang, sulit bagi Rasulullah SAW untuk mengabarkan
keindahan Islam pada manusia. Dengan kasih sayang beliau mampu melembutkan
hati membantu, dan mengubah kebencian menjadi persaudaraan (QS Ali Imran
[3]: 159).

Bila Allah memerintahkan kita untuk basmalah, dan Rasulullah SAW
mencontohkan hidup berlandaskan basmalah, maka menjadi keniscayaan bagi kita
untuk hidup dengan basmalah. Dalam arti hidup hanya untuk Allah, dan menjadi
penebar kasih sayang bagi sesama.

Bagaimana caranya? Kita harus lebih PERHATIAN. Artinya kita harus lebih
(P)emaaf, (E)mpati, (R)amah, (H)ormat, (A)krab, (T)eduh, (A)man dan
(N)yaman.

Pemaaf adalah ciri orang yang memiliki kasih sayang melimpah. Kunci menjadi
pribadi pemaaf adalah tidak mudah tersinggung dengan perlakuan orang.
Pribadi pemaaf akan memaafkan kesalahan saudaranya sebelum saudaranya itu
minta maaf. Saudaraku, tidakkah kita ingin menjadi pribadi yang dimaafkan
Allah? Maka jadilah pemaaf.

Rumus selanjutnya adalah empati. Orang akan lebih penyayang jika bisa meraba
penderitaan orang lain. Apa yang dialami orang lain seakan dialami dirinya
sendiri. Rasulullah Saw. bersabda bahwa seorang Muslim dengan Muslim lainnya
bagaikan satu tubuh, ia akan merasa sakit tatkala saudaranya sakit. Begitu
pula saat saudaranya bergembira, ia juga akan ikut merasa gembira.

Selanjutnya adalah ramah. Dengan ramah yang disertai muka cerah, orang akan
merasa terpuaskan. Saat memberi misalnya. Walau yang kita berikan tidak
seberapa, namun dengan keramahan, orang akan lebih terpuaskan.

Orang pun akan merasa dihargai apabila kita menghormatinya. Sudah menjadi
standar bila semua orang untuk senang dihormati, dan tidak senang
direndahkan, siapa pun dia. Dengan sikap hormat, orang lain akan merasa
dihargai dan diakui keberadaannya. Sebenarnya, menghormati orang lain sama
artinya dengan menghormati diri sendiri.

Rumus selanjutnya adalah akrab. Keakraban menunjukkan dekatnya ikatan
persaudaraan. Persaudaraan tumbuh dari adanya kasih sayang. Buah dari
keakraban akan melahirkan keteduhan. Inilah rumus berikutnya. Seorang Muslim
harus seperti pohon rindang, di mana para musafir bisa melepas lelah dan
orang kepanasan bisa mendapatkan kesejukan.
Pribadi penuh kasih sayang harus mampu pula menghadirkan rasa aman dan
nyaman bagi orang-orang di sekitarnya. Aman artinya orang lain tidak merasa
terganggu bila dekat dengan kita. Aman belum tentu nyaman, tapi nyaman pasti
melahirkan aman. Dalam suasana nyaman, orang tidak hanya merasakan aman,
tapi juga merasa senang dan mendapat manfaat. Wallaahu a'lam.


posted by dian chandra at 6:25 PM

~~~*~~~


Monday, October 17, 2005

sekedar renungan bersama

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata. Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti.

Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia dicintai.

Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati, berusaha meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada.

Manusia buta, karena egois dan hanya memikirkan diri, tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri.

Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati.

Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.

Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan nomor satu dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain, dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jikalau berharap dari orang lain, siaplah ditinggalkan, siaplah dikhianati.

Kita akan bahagia bila bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain.

sumber : dari email seseorang



posted by dian chandra at 10:00 PM

~~~*~~~



Kucintai Engkau dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku membuat diriku lupa pada yang lain
Senantiasa menyebut nama-Mu
Cinta karena diri-Mu membuat diriku selalu memandang-Mu
Karena Kau kuakkan hijab
Tiada puji bagiku untuk ini dan itu
Bagi-Mulah puji dari penghuni semesta.

Ya Allah, Engkau Tuhan Yang Disembah..!
Kuatkanlah imanku dalam keadaan apapun
Dan janganlah Kau bolak-balikkan hatiku setelah Kau berikan hidayah-Mu

Ya Ghaffar, Engkau Maha Pengampun...!
Aku hanya mampu mengungkapkan secuil risalah-Mu
Namun, belum mampu mencegah kemaksiatan
Belum mampu menyentuh hati yang keruh.

Ya Hafizh, Engkaulah Maha Memelihara...!
Lindungilah aku dari kehancuran moral dan mendustakan agama-Mu
Jangan jauhkan aku dari Ramadhan-Mu
Karena di sanalah kutemukan muara tangisan umat-Mu
Jangan jauhkan aku dari si lapar dan si miskin
Karena di sanalah ku menemukan-Mu.

Ya Akbar, Engkaulah Yang Maha Besar...!
Betapa kecilnya diriku dibandingkan kebesaran-Mu
Aku tak mampu melihat kebesaran-Mu dengan mata kepala
Bukalah pintu hatiku agar ada ruang bagi kebesaran-Mu
Bukalah pintu hatiku agar aku dapat melihat rahmat-Mu

Ya Razzaq, Engkaulah pemberi rezeki...!
Niat telah kuikrarkan
Usaha telah kulakukan
Tenaga telah kukerahkan
Aku tak berharap kepada siapapun
Hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan
Bukalah pintu rezekiku...!

Ya Ghani, Engkau Tuhan Yang Maha Kaya...!
Ada orang miskin tak bisa makan enak karena tak ada makanan
Tapi tak sedikit orang kaya yang tak merasakan kelezatan makanan karena sakit

Wahai hati yang bersih penerus cita
Panggillah manusia dengan cinta
Ubahlah dunia dengan karya nyata
Agar hidupmu penuh makna

Ya Hakim, Engkaulah Yang Maha Bijaksana...!
Aku ingin menjadi orang yang bijaksana
Aku ingin menjadi orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ya Alim, Engkaulah Tuhan Yang Maha Mengetahui...!
Berilah aku hikmah agar mampu melihat kebaikan-Mu
Berilah aku hikmah agar mampu menyelami tangisan dan impian saudara kami

Ya Jabbar, Engkau Yang Maha Kuasa...!
Kepunyaan-Mulah apa yang ada di langit dan di bumi
Jangan putuskan harapanku untuk menanti nikmat-Mu
Di tengah kesusahan hidupku ini.

Ya Qawi, Engkaulah Zat Yang Maha Kuat
Tanamkan kekuatan-kekuatan dalam hatiku
Agar aku tak menyerah pada kesulitan hidup
Agar aku mampu istiqomah dalam keyakinanku

Ya Matin, Engkaulah Zat Yang Maha Kukuh...!
Tanamkanlah kepercayaan diri dalam jiwaku
Agar aku tak merasa rendah di mata orang lain.

Ya Wasi, Engkaulah Yang Maha Luas
Ketika aku memberi kepada orang lain
Sungguh menambah pahala bagiku
Ketika aku membantu orang lain
Sungguh menambah kecintaan orang lain kepadaku.

Ya Qadir, Engkaulah Yang Maha Menentukan...!
Segala pikiran telah kucurahkan
Segala ikhtiar telah kulakukan
Suara hati telah kudengarkan
Sekarang tetapkanlah KETENTUAN-MU...!

Duhai Al-Amin
Allah Swt dan malaikat-malaikat bershalawat kepadamu
Shalawat kebajikan atas Al-Amin
Semoga orang yang bershalawat kepadanya selalu diberkahi.Amin!

Aku berdiri dalam tangisan diambang senja
Yang aku tahu kematian telah dekat
Namun, adakah surga akan mempertemukan aku dengannya...?

Makassar, 12 Ramadhan 1426 H


- n u n u k -



posted by dian chandra at 12:23 AM

~~~*~~~


Friday, September 16, 2005

Memilih Teman, Memilih Masa Depan
"Berkawan seorang bodoh yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, jauh lebih baik daripada dengan berkawan seorang 'alim yang selalu memperturutkan hawa nafsunya." (Ibnu Atha'illah)
Memilih teman sama artinya dengan memilih masa depan. Memilih teman sama artinya dengan memilih perilaku. Memilih teman sama artinya dengan memilih kualitas ilmu. Maka, siapa pun yang ingin masa depannya cerah, perilakunya menawan hati, serta luas ilmu dan wawasannya, maka ia harus sangat pandai memilih teman.

Kita akan sulit berkembang bila sehari-hari kita bergaul dengan orang-orang malas. Kita pun akan sulit meraih kemuliaan akhlak, bila sehari-hari kita bergaul dengan orang yang buruk akhlaknya. Maka, tinggi rendahnya kualitas seorang manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas orang yang menjadi temannya.

Rasulullah SAW bersabda, "Seseorang itu adalah menurut agama sahabat (karib)nya. Karena itu, ada baiknya seseorang dari kamu meneliti dulu siapa yang akan dijadikan sahabatnya" (HR Abu Dawud dan At-Turmudzi).

Orang seperti apa yang layak kita jadikan teman dekat? Yang pertama dan utama adalah orang yang baik akhlaknya dan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Bahkan, Imam Ibnu Atha'illah dalam kitab Hikam mengatakan, "Berteman seorang bodoh yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, jauh lebih baik daripada dengan berkawan seorang 'alim yang selalu memperturutkan nafsunya". Mengapa? Orang berilmu tapi memperturutkan hawa nafsu, biasanya akan membenarkan kemaksiatan yang dilakukannya dengan dalil-dalil Alquran dan hadis. Dikhawatirkan, lambat laun kita pun akan membenarkan kemaksiatan tersebut hanya karena bersandar pada dalil-dalil.

Saudaraku, bahaya terbesar dalam hidup adalah diperbudak nafsu. Tidak ada artinya limpahan harta, tinggi jabatan, banyaknya pengikut, tampannya rupa, atau luasnya ilmu, bila kita diperbudak nafsu. Saat diperbudak nafsu, semua yang kita miliki akan digunakan untuk memuaskan nafsu tersebut.

Ada baiknya kita berpikir sejenak, lihat siapa teman-teman dekat kita. Boleh jadi, kualitas diri kita tidak pernah mengalami perubahan karena salah memilih teman. Kita berteman akrab dengan orang-orang yang kualitasnya di bawah kita. Akibatnya, kita merasa paling saleh, paling pintar, dan paling hebat di antara teman-teman kita. Bila demikian, kita tertipu oleh kepintaran semua. Ketika kita salah melihat diri, kita pun akan salah dalam melangkah.

Idealnya kita berteman dengan orang-orang yang kualitasnya jauh lebih baik, sehingga kita tidak merasa paling pintar dan paling saleh. Justeru kita akan merasa paling kurang. Saat berteman dengan orang-orang yang berkualitas, biasanya kita akan terangsang dan termotivasi untuk belajar dan mengejar ketertinggalan. Karena itu ada yang mengatakan, kalau kita ingin menjadi ulama maka bergaulah dengan ulama; ingin menjadi pedagang, maka bergaullah dengan para pedagang; ingin menjadi seniman, maka bergaulah dengan seniman.

Saudaraku, setiap hari masalah yang kita hadapi akan semakin berat dan kompleks. Kita akan terpuruk bila banyaknya masalah tidak diimbangi dengan peningkatan kemampuan diri untuk menyelesaikannya. Maka, rugi bila dalam sehari kita tidak bertemu dengan orang yang lebih baik dari kita. Rugi karena kita tidak mendapat ilmu, wawasan, dan semangat baru. Dan celaka bila kita menjauh dan memusuhi orang-orang yang lebih baik dari kita. Wallahu a'lam
( KH Abdullah Gymnastiar )


posted by dian chandra at 5:57 PM

~~~*~~~

Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.com