<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/12833396?origin\x3dhttp://dianchandra.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script><!-- --><div id="b-navbar"><a href="http://www.blogger.com/" id="b-logo" title="Go to Blogger.com"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/logobar.gif" alt="Blogger" width="80" height="24" /></a><form id="b-search" action="http://www.google.com/search"><div id="b-more"><a href="http://www.blogger.com/" id="b-getorpost"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/btn_getblog.gif" alt="Get your own blog" width="112" height="15" /></a><a href="http://www.blogger.com/redirect/next_blog.pyra?navBar=true" id="b-next"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/btn_nextblog.gif" alt="Next blog" width="72" height="15" /></a></div><div id="b-this"><input type="text" id="b-query" name="q" /><input type="hidden" name="ie" value="UTF-8" /><input type="hidden" name="sitesearch" value="dian-chandra.blogspot.com" /><input type="image" src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/btn_search.gif" alt="Search" value="Search" id="b-searchbtn" title="Search this blog with Google" /><a href="javascript:BlogThis();" id="b-blogthis">BlogThis!</a></div></form></div><script type="text/javascript"><!-- function BlogThis() {Q='';x=document;y=window;if(x.selection) {Q=x.selection.createRange().text;} else if (y.getSelection) { Q=y.getSelection();} else if (x.getSelection) { Q=x.getSelection();}popw = y.open('http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t=' + escape(Q) + '&u=' + escape(location.href) + '&n=' + escape(document.title),'bloggerForm','scrollbars=no,width=475,height=300,top=175,left=75,status=yes,resizable=yes');void(0);} --></script><div id="space-for-ie"></div>


Monday, May 16, 2005

Daun

Seorang pemuda duduk sendiri di sebuah taman. Di pangkuannya terhampar sebuah buku yang masih terbuka. Di sebelah kanannya, sisa makanan berhimpit dengan botol minuman. Hari itu adalah awal musim gugur. Tak heran banyak sekali daun berjatuhan. Terserak. Begitupun di bangku tempat pemuda itu duduk.
Sang pemuda masih menikmati sore itu dengan membaca. Tangannya membolak-balik halaman buku. Setiap kali selesai membaca beberapa paragraf, matanya tak lepas dari urutan kata dalam buku. Menelusuri setiap kalimat yang tersusun di sana. Tak ada rasa terganggu dengan daun-daun yang sesekali jatuh menimpanya. Sementara di kejauhan, ada beberapa anak kecil berlari. Mereka bermain, menikmati matahari sore yang indah itu.
Srekkk... srekk. Terdengar langkah. Pemuda itu menoleh. Srekk... srekk... srekk. Terdengar lagi langkah kaki bergesekan dengan daun-daun. Seorang ibu tua sedang memunguti daun-daun. Tangan kirinya menggenggam kantung kain. Isinya daun-daun kering.
Pemuda itu tertegun. Heran.
"Ibu sedang apa?"
"Aku sedang mengumpulkan daun."
Mata tuanya terus menjelajah, mengamati hamparan daun ditaman itu.
"Aku sedang mencari daun-daun terbaik untuk kujalin menjadi mainan buat anak-anak disana."
Satu dua daun dimasukkan ke kantung kain. Pemuda itu beringsut. Buku di depannya diletakkan. Ia kembali bertanya, "Sejak kapan Ibu melakukannya?"
"Setiap musim gugur aku lakukan ini untuk anak-anak. Akan kubuatkan selempang dan mahkota daun buat mereka. Jika aku dapat banyak daun, akan kubuatkan pula selubung-selubung ikat pinggang. Ah, mereka pasti senang." Mata tua itu berbinar. Syal di lehernya berjuntai di bahu. Tangannya kembali memasukkan beberapa daun.
"Tapi, Bu, sampai kapan ibu lakukan ini? Anak-anak itu pasti akan membuat semuanya rusak setiap kali mereka selesai bermain.Lagi pula, terlalu banyak daun yang ada disini. Ini musim gugur, daun itu akan terus jatuh layaknya hujan," lagi-lagi si pemuda bertanya. "Apa Ibu tak pernah berpikir untuk berhenti?"
"Berhenti? Berpikir untuk berhenti? Memang, anak-anak itu akan selalu merusak setiap rangkaian daun yang ku buat. Mereka juga akan selalu membuat mahkota daunku koyak. Selempang daunku juga akan putus setiap kali mereka selesai bermain. Tapi, itu semuatak akan membuatku berhenti." Ibu tua itu menarik nafas. Syal di lehernya makin dipererat.
"Masih ada ribuan daun yang harus kupungut disini. Masih ada beberapa kelok jalan lagi yang harus kutempuh. Waktuku mungkin tak cukup untuk mengambil semua daun disini. Tapi aku tak akan berhenti."
"Akankah aku berhenti dari kebahagiaan yang telah kutemukan? Akankah aku berhenti untuk memandang kegembiraan dan binar-binar mata anak-anak itu? Akankah aku menyerah dari kedamaian yang telah aku rasakan setiap musim gugur itu?" tanyanya retoris.
"Tidak, Nak! Aku tidak akan berhenti berusaha untuk kebahagiaan itu. Aku tidak akan berhenti hanya karena koyaknya mahkota daun atau ribuan daun lain yang harus kupungut."
Tangan tua itu kembali meraih sepotong daun. Lalu, dengan suara pelan, ia berbisik, "Ingat Nak, jangan berhenti. Jangan pernah berhenti untuk berusaha." Larik-larik senja telah muncul, menerobos sela-sela pohon, membentuk sinar-sinar panjang, dan berpendar pada tubuh ibu tua itu.

Teman, adakah kita pernah merasa ingin berhenti dari hidup ini? Adakah kita merasa gagal? Adakah kita berpikir untuk tak mau melanjutkan impian-impian kita? Saya percaya, ada banyak dari kita yang pernah mengalaminya. Ada banyak dari kita yang mungkin berpikir untuk menyerah karena begitu banyak tantangan yang harus di hadapi.
Namun, apakah kita harus berhenti berusaha ketika melihat "mahkota-mahkota daun" impian kita koyak? Harus kah kita berhenti saat "selempang daun" harapan yang kita sandang putus? Akankah kita menyerah saat "rangkaian daun" kebahagiaan kita tak berbentuk? Saya percaya, ada banyak pilihan untuk itu. Beragam pilihan akan muncul di kepala kita saat kenyataan pahit ada di depan kita. Lalu, akankah kita surut melangkah, saat kita melihat ada ribuan "daun tantangan" yang harus kita pungut? Akankah kaki kita menyerah ketika kita bertemu dengan hamparan "daun ujian" didepan kita? Agaknya kita harus ingat perkataan ibu tua itu.
"Jangan pernah berhenti untuk berusaha. Jangan pernah menyerah untuk kebahagiaan yang akan kita raih."
Teman, ibu tua itu benar. Kita mungkin tak akan mampu meraih semua daun-daun kebahagiaan itu. Mahkota, selempang, dan selubung ikat pinggang daun itu akan koyak. Tapi janganlah itu membuat kita berhenti melangkah.

Masih ada berjuta daun-daun harapan lain yang masih dapat kita pungut. Di depan sana, masih terhampar berjuta daun impian lain yang memberi kita beragam pilihan. Mungkin jalan di depan kita masih berkelok, masih panjang, namun daun-daun itu ada disana. Berjuta daun kebahagiaan lain masih menunggu untuk kita rajut, jalin, anyam dan susun. Jangan menyerah. Jangan pernah menyerah, karena Alloh selalu bersama hamba-Nya yang sabar.
***

Kisah ini mengingatkan pada seorang sahabat, dia mengatakan :
"Buku harian kita, hanya kita yang bisa mengisinya, bukan orang lain. Demikian juga dengan rasa bahagia, tidak akan mendatangi kita, kecuali kita yang menciptakannya. Dan juga jangan takut dengan kegagalan yang pernah kita alami, karena itu tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Apakah setelah kita terjatuh dari sepeda sewaktu belajar, akan menjadikan kita takut untuk belajar lagi?"

Terima kasih sahabat, semua ini selalu menjadi bahan renungan.
Semoga kedepan bisa menjadi lebih baik ...


posted by fasya collection at 8:01 PM

~~~*~~~

Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.com