<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/12833396?origin\x3dhttp://dianchandra.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script><!-- --><div id="b-navbar"><a href="http://www.blogger.com/" id="b-logo" title="Go to Blogger.com"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/logobar.gif" alt="Blogger" width="80" height="24" /></a><form id="b-search" action="http://www.google.com/search"><div id="b-more"><a href="http://www.blogger.com/" id="b-getorpost"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/btn_getblog.gif" alt="Get your own blog" width="112" height="15" /></a><a href="http://www.blogger.com/redirect/next_blog.pyra?navBar=true" id="b-next"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/btn_nextblog.gif" alt="Next blog" width="72" height="15" /></a></div><div id="b-this"><input type="text" id="b-query" name="q" /><input type="hidden" name="ie" value="UTF-8" /><input type="hidden" name="sitesearch" value="dian-chandra.blogspot.com" /><input type="image" src="http://www.blogger.com/img/navbar/1/btn_search.gif" alt="Search" value="Search" id="b-searchbtn" title="Search this blog with Google" /><a href="javascript:BlogThis();" id="b-blogthis">BlogThis!</a></div></form></div><script type="text/javascript"><!-- function BlogThis() {Q='';x=document;y=window;if(x.selection) {Q=x.selection.createRange().text;} else if (y.getSelection) { Q=y.getSelection();} else if (x.getSelection) { Q=x.getSelection();}popw = y.open('http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t=' + escape(Q) + '&u=' + escape(location.href) + '&n=' + escape(document.title),'bloggerForm','scrollbars=no,width=475,height=300,top=175,left=75,status=yes,resizable=yes');void(0);} --></script><div id="space-for-ie"></div>


Monday, January 23, 2006

Hidup dengan Landasan Basmalah

(KH Abdullah Gymnastiar )

Seorang Muslim dengan Muslim lainnya bagaikan satu tubuh, ia akan merasa
sakit tatkala saudaranya sakit. Begitu pula saat saudaranya bergembira, ia
juga akan ikut merasa gembira.

Saudaraku, dari seratus empat belas surat dalam Alquran hanya satu surat
saja yang tidak diawali kalimat basmalah, yaitu QS. At-Taubah [9]. Selain
At-Taubah, semuanya diawali lafal basmalah.

Apa hikmahnya? Semua yang kita lakukan harus berlandaskan basmalah. Artinya,
kita selalu menggantungkan amal perbuatan kita pada Allah, dan menghiasi
amal-amal tersebut dengan kasih sayang. Karena itu, berbicara tentang Islam
sama artinya dengan berbicara tentang kasih sayang. Islam adalah agama kasih
sayang; agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

Rasulullah SAW adalah contoh ideal pribadi penuh kasih sayang. Beliau
menjadikan basmalah sebagai tempat bertolak. Kalau kita telaah kehidupan
Rasul, maka kasih sayang menjadi bagian terpenting pribadinya. Dakwah yang
beliau dilakukan adalah dakwah penuh kasih sayang. Dalam Alquran
difirmankan, ''Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan
dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang Mukmin.'' (QS At-Taubah [9]: 128).

Tanpa landasan kasih sayang, sulit bagi Rasulullah SAW untuk mengabarkan
keindahan Islam pada manusia. Dengan kasih sayang beliau mampu melembutkan
hati membantu, dan mengubah kebencian menjadi persaudaraan (QS Ali Imran
[3]: 159).

Bila Allah memerintahkan kita untuk basmalah, dan Rasulullah SAW
mencontohkan hidup berlandaskan basmalah, maka menjadi keniscayaan bagi kita
untuk hidup dengan basmalah. Dalam arti hidup hanya untuk Allah, dan menjadi
penebar kasih sayang bagi sesama.

Bagaimana caranya? Kita harus lebih PERHATIAN. Artinya kita harus lebih
(P)emaaf, (E)mpati, (R)amah, (H)ormat, (A)krab, (T)eduh, (A)man dan
(N)yaman.

Pemaaf adalah ciri orang yang memiliki kasih sayang melimpah. Kunci menjadi
pribadi pemaaf adalah tidak mudah tersinggung dengan perlakuan orang.
Pribadi pemaaf akan memaafkan kesalahan saudaranya sebelum saudaranya itu
minta maaf. Saudaraku, tidakkah kita ingin menjadi pribadi yang dimaafkan
Allah? Maka jadilah pemaaf.

Rumus selanjutnya adalah empati. Orang akan lebih penyayang jika bisa meraba
penderitaan orang lain. Apa yang dialami orang lain seakan dialami dirinya
sendiri. Rasulullah Saw. bersabda bahwa seorang Muslim dengan Muslim lainnya
bagaikan satu tubuh, ia akan merasa sakit tatkala saudaranya sakit. Begitu
pula saat saudaranya bergembira, ia juga akan ikut merasa gembira.

Selanjutnya adalah ramah. Dengan ramah yang disertai muka cerah, orang akan
merasa terpuaskan. Saat memberi misalnya. Walau yang kita berikan tidak
seberapa, namun dengan keramahan, orang akan lebih terpuaskan.

Orang pun akan merasa dihargai apabila kita menghormatinya. Sudah menjadi
standar bila semua orang untuk senang dihormati, dan tidak senang
direndahkan, siapa pun dia. Dengan sikap hormat, orang lain akan merasa
dihargai dan diakui keberadaannya. Sebenarnya, menghormati orang lain sama
artinya dengan menghormati diri sendiri.

Rumus selanjutnya adalah akrab. Keakraban menunjukkan dekatnya ikatan
persaudaraan. Persaudaraan tumbuh dari adanya kasih sayang. Buah dari
keakraban akan melahirkan keteduhan. Inilah rumus berikutnya. Seorang Muslim
harus seperti pohon rindang, di mana para musafir bisa melepas lelah dan
orang kepanasan bisa mendapatkan kesejukan.
Pribadi penuh kasih sayang harus mampu pula menghadirkan rasa aman dan
nyaman bagi orang-orang di sekitarnya. Aman artinya orang lain tidak merasa
terganggu bila dekat dengan kita. Aman belum tentu nyaman, tapi nyaman pasti
melahirkan aman. Dalam suasana nyaman, orang tidak hanya merasakan aman,
tapi juga merasa senang dan mendapat manfaat. Wallaahu a'lam.


posted by fasya collection at 6:25 PM

~~~*~~~

Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.com